Saturday, December 23, 2017

Cormoran Strike - Idola Baru di dunia Fiksi Kriminal


Sebagai penggemar crime fiction, perasaan saya campur aduk waktu tahu bahwa J.K. Rowling yang legendaris, sang pencipta Harry Potter, menulis seri kriminal dengan nama samaran Robert Galbraith. Antara excited dan skeptis, memangnya dia bisa?

Tokoh utama seri detektif Galbraith ini bernama Cormoran Strike, detektif partikelir mantan anggota Special Investigation Branch Royal Military Police (Polisi Militer-nya angkatan darat Inggris). Dia juga adalah anak rock star terkenal, Johnny Rokeby, dengan seorang groupie dan pernah kuliah di Oxford sebelum bergabung dengan angkatan darat Inggris.

Dengan latar belakang seperti itu, harapan yang terbentuk di benak saya tentang penampilan karakter ini adalah model James Bond-ish yang tinggi, gagah - hasil didikan tentara, keren, pintar, dan ganteng.
Gambaran tokoh Cormoran Strike ideal dalam khayalan saya itu langsung hancur berkeping-keping saat membaca penggambaran Galbraith akan sosok Cormoran Strike: besar, gendut, kasar, awut-awutan, dan pakai kaki palsu karena sebelah kakinya diamputasi akibat kena bom di Afghanistan. Oh, dear! Seriously? .. aaarghhh! *jambak-jambak rambut*

Why? Why did you do this to me?

This illustration supported the description of Strike and successfully ruined my fantasy of what Cormoran Strike should look like. True-to-the-book but definitely not appealing. Dang! Source

Tapi toh saya tetap membaca novel itu sampai selesai, dan ternyata menarik lho! Jago memang si Robert Galbraith ini. Saya suka dengan gaya deskripsinya yang dijembrengkan dengan sangat detil sampai orang jadi penasaran, apa petunjuk ini bakal punya peran penting untuk closure cerita. Setelah baca novel pertama berjudul The Cuckoo's Calling, saya akhirnya juga baca seri lanjutannya: The Silkworm dan Career of Evil. Meskipun setiap kali Galbraith mulai menjelaskan lagi apa-apa yang ada hubungannya dengan fisik Strike saya biasanya langsung skip paragraf itu! Hahaha.

Baru-baru ini saya tahu kalau serial ini sudah diadaptasi jadi serial TV oleh BBC. Daaan.. surprise! Pemeran utama Cormoran Strike-nya lumayan kok. Much much better than what I had in mind. Pasti ini pertimbangan dari segi komersial ya, karena siapa juga yang mo nonton kalo pemerannya bener-bener plek-plekan gitu dengan deskripsi Galbraith di novelnya. Ya gak?

Begitu lihat sosok Strike versi dunia nyata, semua ingatan saya tentang Strike yang ada di kepala langsung otomatis dicatat ulang. Sekarang saya udah nggak lagi terbayang-bayang ilustrasi Cormoran Strike yang true-to-the-book tapi sama sekali nggak appealing itu.

Menurut saya, karakter-karakter utama dalam novel ini semuanya kuat. Galbraith betul-betul membuat hidup yang nggak mudah buat tokoh-tokohnya. Strike yang veteran perang Afghanistan harus mengalami mimpi buruk hampir tiap hari karena dihantui rasa bersalah untuk suatu insiden yang terjadi pada timnya di Afghanistan. Dia juga kehilangan sebelah kaki sehingga harus pakai kaki palsu dan jalan terpincang-pincang. Usaha detektifnya pun juga nggak begitu bagus sehingga Strike kesulitan uang. Ditambah lagi putus dari pacarnya yang cantik dan glamor (dan agak psycho, if I may say) membuat dia semakin terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu *eh kok jadi ADA Band*

Sidekick Strike dalam novel ini pun juga punya latar belakang yang cukup tragis. Robin Ellacott diceritakan sedang cari pekerjaan di London. Melalui perusahaan Temporary Solution, dia dapat kerja sebagai sekretaris sementara untuk Strike. Digambarkan sebagai cewek berambut pirang yang lumayan menarik, Robin juga punya masalahnya sendiri. Dia ternyata pernah mengalami peristiwa mengerikan semasa kuliah: diperkosa, dan akibat kejadian itu dia berubah dari orang yang periang dan outgoing jadi pendiam dan pemurung. Pelan-pelan, dia bisa kembali punya rasa percaya diri lagi setelah ikut program rehabilitasi mental.

Cormoran Strike and Robin Ellacott. Credit: BBC/Bronte Film & TV Ltd/Steffan Hill

Nah, sekarang urusan cinta-cintaan. Kalau kalian berpikir bahwa sebagai detektif dan sekretaris maka Strike dan Robin punya kans untuk mengembangkan hubungan jadi lebih personal, maka kalian salah. Dari awal, Robin diceritakan sudah punya tunangan dan berencana menikah dengan tunangannya itu. Meskipun sempat ada ketertarikan (dan kesempatan) antara Strike dan Robin, sampai akhir novel ketiga nggak ada perkembangan hubungan yang berarti antara keduanya selain mereka jadi lebih akrab secara profesional dan Strike menjadikan Robin sebagai partner instead of sebatas sekretaris slash petugas administrasi doang.

Di akhir buku ketiga, si Strike bahkan menghadiri upacara pernikahan Robin. Apakah ia bermaksud menggagalkan pernikahan itu? Enggak! Sampai buku itu tamat juga endingnya tetap Robin jadi menikah dengan tunangannya yang songong itu.

Tapi jangan sedih! Galbraith bilang dia berencana untuk bikin setidaknya sepuluh lagi novel Cormoran Strike. Apa aja bisa terjadi dalam sepuluh seri kan. Siapa tahu? Kita tunggu aja.

2 comments

  1. Aku pun sempet skeptis pas tahu dia bikin novel selain Harry Potter. Sampe sekarang belum baca, wkwk, agak males. Tapi habis baca ini aku jadi penasaran. Baru tahu ada serialnya juga. Cuus mau nonton!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukunya okee.. kalo serialnya aku juga belom nonton hahaha

      Delete

© The Mint Suitcase
Maira Gall