Saturday, December 16, 2017

TMS Movie Talk: The Man From UNCLE

Picture taken from here

Pernahkah teman-teman saking sukanya sama suatu film, kalian nonton film itu berkali-kali di bioskop?

Waktu masih kuliah dulu, saya punya teman yang saking ngefansnya dengan robot-robot Transformers, dia nonton filmnya sampai lima kali. Komentar saya waktu itu "ngapain deh buang-buang duit buat nonton film yang sama sebanyak lima kali?? mending buat nonton film lain"

Fast forward beberapa tahun, ternyata saya melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan teman saya itu. Saya nonton The Man from UNCLE (TMFU) sampai tiga kali di bioskop. Yes, three times! Mungkin ini yang namanya karma.

Awalnya, saya tertarik nonton film ini karena baca sinopsisnya (entah dimana, saya lupa). The Man from UNCLE ini bercerita tentang dua agen CIA dan KGB yang ditugaskan dalam suatu misi bersama untuk menggagalkan upaya pengembangan senjata nuklir oleh NAZI. Sebagai penggemar cerita-cerita detektif dan spionase, saya nggak mau dong ketinggalan nonton film ini.

Nah, things become interesting karena setting film ini adalah masa Perang Dingin ketika hubungan Uni Soviet dan Amerika Serikat sedang tegang-tegangnya. Gimana ceritanya organisasi spionase dari dua negara yang saling musuhan bisa tiba-tiba bersatu padu?


Adalah Napoleon Solo (Henry Cavill), agen khusus CIA yang flamboyan dan playboy (reminds me of James Bond). Sebetulnya dia adalah mantan tentara di angkatan darat AS yang kemudian jadi penjahat kelas kakap dengan spesialisasi mencuri barang-barang seni bernilai tinggi. Saat ditangkap, CIA memberi dia pilihan dijebloskan ke penjara atau bekerja untuk CIA. Karena merasa dirinya terlalu berharga untuk menghabiskan sisa hidupnya di penjara, Solo memilih menerima tawaran dari CIA.

Ilya Kuryakin (Armie Hammer) adalah agen terbaik yang dimiliki KGB, cerdas (International Master catur - elo rating 2401) dengan sosok tinggi besar dan kuat. Berkebalikan 180 derajat dari Solo, Ilya Kuryakin digambarkan sebagai sosok yang pelit senyum, berpenampilan biasa dan kaku. Tipikal orang Uni Soviet pada masa itu - dari sudut pandang Amerika. 

Film ini sebetulnya adalah remake dari serial televisi berjudul sama yang tayang di tahun 60-an. Meskipun tema yang dibawa cukup berat, film ini juga dibumbui kisah cinta dan humor cerdas yang muncul tiba-tiba di saat penonton lagi tegang-tegangnya.

Plot

Di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu akibat persaingan kekuatan antara Uni Soviet dan Amerika Serikat, CIA dan KGB mencium upaya pengembangan senjata nuklir oleh suatu organisasi yang terafiliasi dengan NAZI. Organisasi itu menculik seorang ilmuwan berkebangsaan Jerman bernama Udo Teller untuk memuluskan rencananya. CIA dan KGB mencurigai keluarga Vinciguerra sebagai otak di balik organisasi ini.

Potensi bahaya yang ditimbulkan oleh rencana pengembangan 'liar' senjata nuklir ini membuat CIA dan KGB mau tidak mau harus bekerja sama. Solo dan Ilya terpilih untuk menjalankan misi bersama ini. Keduanya melacak keberadaan Udo Teller dengan bantuan putri sang ilmuwan, Gaby. Meskipun awalnya saling bersaing, mereka akhirnya bekerja sama untuk menggagalkan rencana keluarga Vinciguerra.

What makes me hooked

1. Reminds me of what I studied in my younger years

Adegan pembuka di film ini mengingatkan saya pada literatur-literatur tentang Perang Dingin yang harus saya baca zaman kuliah dulu, tentang Jerman Barat dan Jerman Timur, proxy war, dan containment policy. Sungguh, waktu kuliah dulu rasanya berat dan membosankan sekali. Seandainya film ini keluar zaman saya masih kuliah dulu, mungkin belajar tentang Perang Dingin akan jadi lebih menarik.


2. Adorable flirting scenes

Di serial televisi yang tayang tahun 60-an, Napoleon Solo mendapat porsi yang cukup dalam hal percintaan. Di film ini, spot urusan cinta-cintaan diberikan pada Ilya. There is definitely mutual attraction between him and Gaby.  Tapi di akhir film, hubungan antara Ilya dan Gaby sengaja dibiarkan mengambang, mungkin supaya ada ruang pengembangan cerita kalau sekuelnya nanti dibuat. Tapi saya kesal sekali dengan ending macam begitu dan akhirnya menghibur diri dengan berbagai fanfics Gaby dan Ilya di Tumblr dan Wattpad.



3. The humor

Untuk kategori film bertema spionase, adegan-adegan action di film ini tergolong ringan tapi cukup memuaskan. Saya suka dengan selipan komedi di film ini, salah satu adegan favorit saya adalah saat Solo menemukan alat penyadap yang dipasang Ilya di kamarnya dan begitu juga sebaliknya, Ilya menemukan bahwa di kamarnya ada alat penyadap yang dipasang oleh Solo.

Solo went to confront Ilya and ended up being scorned because Ilya thought Solo's bugs were 'very low-tech' hahaha.



4. Vintage stuff

Hal lain yang saya suka dari film ini adalah nuansa retro yang kental. Yaiyalah wong settingnya tahun 60-an. Baju-baju yang dipakai Gaby Teller menurut saya lucu-lucu banget! Belum lagi kacamata dengan frame bulat, dan... Vespa! hahaha.

Aren't they chic? Source
5. The soundtrack

I must say, I love all the tracks from this movie. Call me bias but I think they're all great and memorable too. Gara-gara film ini juga, saya jadi tahu lagu berbahasa Italia berjudul Che Vuole Questa Musica Stasera. This song easily becomes one of my favorite!


Sayangnya, dari beberapa sumber yang saya baca film ini termasuk film yang flop di pasaran. Katanya sih, sambutan untuk TMFU tidak seantusias yang diharapkan dan profitnya tidak begitu besar. I still have my fingers crossed for a sequel, though. Who knows?

Did you get to watch this movie? Let me know what you think.

No comments

Post a Comment

© The Mint Suitcase
Maira Gall