Monday, January 1, 2018

Happy New Year!


SELAMAT TAHUN BARU 2018 TEMAN-TEMAN!

Semoga kita semua senantiasa dilimpahi kesehatan dan kebahagiaan, two most precious things in life :)

I don't really feel like setting up a new year resolution. Melihat ke belakang, semua resolusi tahun baru yang pernah saya buat ternyata cuma berakhir jadi semacam to-do-list untuk bulan Januari saja. Ada yang nasib resolusi tahun barunya sama dengan saya nggak sih? Hehehe.

Mungkin tahun ini saya coba ganti judul dari 'resolusi' menjadi 'harapan'. Siapa tahu dengan penamaan yang berbeda ternyata saya lebih termotivasi untuk mewujudkan semua 'harapan' tadi menjadi kenyataan. Ini harapan-harapan saya tahun ini:



Read more books

Seiring dengan segala macam kesibukan, saya menyadari bahwa makin lama saya jadi makin jarang membaca buku, terutama novel-novel crime fiction yang jadi favorit saya. Bacaan saya semakin lama semakin didominasi oleh laporan dan berita dari koran atau internet.

To kick-start 2018, I pledge to read at least 12 books this year. Asumsinya, satu bulan paling nggak satu buku. Surely it's not a hard thing to do? I already have at least five books sitting in my bookshelf waiting to be read.

Tiga di antaranya novel romance berbahasa Indonesia karya Christian Simamora yang sengaja saya beli waktu kemarin pulang ke Indonesia, dua lagi novel John Grisham dan Lee Child. So excited!

Write my own fiction

Kesal rasanya lihat draft yang semakin lama semakin banyak tapi nggak pernah serius dikerjakan. Ide cerita banyak banget, tapi entah kenapa setiap kali mulai digarap, nggak berapa lama kemudian kerjaan datang bertubi-tubi dan semangat, ide serta endurance tiba-tiba menguap entah kemana! Tahun ini semoga bisa ada satu yang betul-betul selesai ya.. di antara kalian ada yang tertarik baca nggak kira-kira? #TesOmbak

Begin journaling again 

Untuk ini, saya agak malu mengakui, tapi saya adalah tipe orang yang nulis buku harian sejak jaman SD, mungkin sekitar kelas dua. Buku harian pertama saya adalah notebook kecil dan tipis bergambar Sailor Moon yang kertasnya wangi dan warna-warni hahaha. Sampai sekarang masih saya simpan lho.

Mau tau nggak awalnya saya nulis buku harian? Mendiang Eyang Kakung saya yang suruh. Beliau bilang saya mesti punya buku catatan sendiri untuk nulis apa aja yang lagi pingin saya tulis, entah puisi atau tentang cerita sehari-hari. Saya sudah agak-agak lupa, mungkin karena dulu saya anaknya ambisius dan pingin kirim-kirim puisi ke majalah anak-anak supaya dimuat. Jadilah itu notebook Sailor Moon saya isi dengan puisi-puisi ala anak SD, curhatan soal teman sekelas yang nyebelin, sampai lirik lagu serial kungfu legendaris macam Kembalinya Pendekar Rajawali dan Pedang Pembunuh Naga yang nggak mau lepas dari otak dan masih saya hafal sampai sekarang!

Kebiasaan menulis buku harian itu masih terus saya lakukan sampai saya menikah. Sejak menikah, rasanya hampir nggak pernah lagi menulis karena ada suami yang jadi tempat cerita, hal-hal nggak penting yang remeh temeh atau kegalauan hati gara-gara harus mengambil keputusan penting yang berpengaruh ke masa depan kami.

But old habits die hard.

Ketika saya baca lagi jurnal-jurnal lama saya, banyak hal yang saya dapat. Saya melihat seperti apa diri saya dulu dan jadi ada cermin untuk berkaca, melihat seperti apa saya tumbuh. I can see quite vividly all the things that I've been through and how they made me feel, what were once matter to me but no longer do, the hardships, and how those hardships mould me to become who I am today.

I think that journaling is a good thing to do, so I will start doing it again. I believe there is something in our everyday that we perceive as mundane, tapi ketika suatu saat nanti kita lihat kembali, ternyata  yang remeh dan 'biasa' itu punya peran dalam kehidupan kita di masa depan.


Apa resolusi atau harapan teman-teman tahun ini? Share di comment ya.. siapa tahu bisa jadi inspirasi buat saya dan teman-teman lain untuk mengawali tahun 2018 ini :)

Until next time,
C


1 comment

  1. Resolusi terkadang menjadi sekedar catatan semata, karena gak semua terwujud. Aku juga lebih suka menggunakan kata harapan karena terdengar lebih realistis

    ReplyDelete

© The Mint Suitcase
Maira Gall